Tampilkan postingan dengan label SMK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SMK. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Maret 2012

Mobil Esemka Elektrik, "Sang Putra Petir" Ala Dahlan Iskan

Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan melirik peluang digunakannya body mobil Esemka untuk dipasangi mesin listrik buatan negeri sendiri. Menurutnya, desain mobil Esemka yang terbaru, yang sudah disempurnakan memiliki tampilan keren.

Hal ini disinggung Dahlan dalam kolom analisis bertajuk 'Hamil Tua untuk Lahirnya Putra Petir' yang terbit di laman Vivanews, Senin, (19/3/2012). Putra petir yang dimaksud adalah mobil listrik nasional.

Dalam tulisannya tersebut Dahlan bahkan menyarankan, jika perlu, langsung meminta izin ke Menteri Pendidikan dan Budaya untuk bisa menggunakan body mobil mobil rakitan sejumlah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Solo tersebut.

"Kita minta izin saja ke Mendikbud Bapak Muhammad Nuh untuk bisa menggunakan body mobil Esemka. Desain mobil Esemka yang terbaru, yang sudah disempurnakan di sana-sini (seperti yang saya lihat di pameran mobil Esemka di Universitas Muhammadiyah Solo bulan lalu) sudah sangat keren," seperti dikutipGhiboo.com dari kolom Meneg BUMN tersebut.

Saran Dahlan untuk menggunakan Esemka menjawab isi surat seorang pencipta microturbine, yang berkata siap membeli mobil Kijang untuk diganti mesinnya dengan mesin mobil listrik.

"Saya sampaikan padanya, jangan menggunakan merek mobil yang sudah ada. Kita belum minta izin kepada pemilik merek itu. Belum tentu kita boleh menggunakannya. Kalau sampai kita digugat energi kita habis untuk itu. Kita akan kelelahan. Kita akan susah. Kelahiran Putra Petir bisa gagal, " kata Dahlan seperti dikutip kembali dari kolom tersebut.

Menurut Dahlan mobil-motor listrik nasional sebenarnya sudah lebih dari 10 tahun dirintis Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Prototipenyapun sudah jadi.

"Kalau saya menghendaki segera naik mobil listrik yang mesinnya ciptaan LIPI, dalam hitungan dua-tiga bulan sudah bisa diwujudkan. Tinggal body-nya menggunakan mobil apa. LIPI tidak akan menciptakan body mobil. Bukan karena sulit, tapi karena sudah banyak yang mampu menciptakannya, " tulis Dahlan.


Rabu, 25 Januari 2012

FunTop: Laptop Canggih Buatan Anak Esemka Banjar Jawa Barat, Rp 2,7 Juta Saja!

Sukses siwa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tak hanya di bidang otomotif. Salah satunya yang dihasilkan siswa SMK Banjar, Jawa Barat. Mereka mahir merakit laptop, namanya Funtop.

Funtop ini ternyata berhasil menembus pasaran di Banjar. Sebanyak 40 unit funtop sudah dipesan.

Spesifikasi dari funtop ini tak kalah canggih dengan produk serupa dari merek ternama. Memiliki layar selebar 13 inch, funtop ini dilengkapi 2 gigabyte internal memory dan 320 gigabyte hard disk. Harganya pun cukup murah. Hanya Rp2,7 rupiah. Dan jika rusak, maka konsumen tidak bakal dipungut biaya perbaikan.

Tonton keahlian siswa SMK merakit Funtop:





Jumat, 13 Januari 2012

7 Langkah Lanjutan Setelah Mobil Kiat Esemka

Dalam artikel 'Jangan Sampai Berhenti di Mobil Esemka Saja', kami mengundang pembaca Yahoo untuk memberi pendapat tentang apa-apa saja yang perlu dilakukan agar pengembangan mobil Esemka bisa mulai terlaksana.

Yang terpenting dalam berita soal mobil Esemka adalah adanya sekumpulan anak-anak SMK, dengan bantuan sebuah bengkel mobil, telah berhasil merakit sebuah mobil. Jangan terlalu berfokus pada perdebatan politik yang terjadi di sana. Inovasi teknologi jarang menjadi prioritas di Indonesia, sehingga kemunculan mobil Esemka seharusnya dilihat sebagai upaya merangsang inovasi-inovasi teknologi lain itu.

Banyak pembaca Yahoo Indonesia yang tak ingin Esemka menjadi sebuah kesempatan yang terlewatkan. Lalu, kami bertanya apa yang bisa menjadi langkah selanjutnya untuk mengembangkan mobil Esemka?

Apa yang menurut Anda bisa dilakukan pemerintah, baik pusat maupun wilayah, untuk mendorong munculnya lebih banyak penelitian dan inovasi teknologi? Lalu, bagaimana sekolah bisa mendorong murid-murid untuk melakukan lebih banyak eksperimen ilmiah?

Pembaca kami, Danang, memberi enam poin di bawah ini, dan banyak pembaca lain yang mengajukan argumen pendukung. Sementara satu poin terakhir adalah usulan beberapa pembaca yang terus berulang di forum komentar kami. Apa saja yang bisa dilakukan untuk membesarkan mobil Esemka? Berikut jawabannya:

1) Anggaran dana untuk riset dan pengembangan
Tak bisa dipungkiri lagi bahwa pemerintah Indonesia belum memberi perhatian cukup untuk pengembangan dan riset teknologi, terlihat dari segi dana. Maka, pembaca kami, Danang, memberi saran perlunya alokasi anggaran cukup untuk riset dan pengembangan, baik di level SMK/SMU maupun perguruan tinggi.

Pembaca Benyamin Pasullean menambahkan, "Dana yang serba kecil itu, masih disunat lagi oleh pimpinan instansi dengan berbagai cara dan alasan. Akibatnya banyak peneliti yang frustrasi. Jika negeri kita ingin maju, pengiriman SDM keluar negeri untuk menimba ilmu, yang sudah berjalan dengan baik selama ini, harus dibarengi dengan penyediaan ruang memadai untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat. Salah satunya adalah dana penelitian yang cukup. Harusnya APBN dan APBD menyediakan dana penelitian dan pengembangan 20%. Masalahnya adalah apa penentu kebijakan rela?"

Hary Mulya juga menambahkan, perlu koin untuk pengetahuan, karena semua negara maju mengeluarkan anggaran besar untuk kemajuan umat manusia. "Sudah 66 tahun Indonesia merdeka, tetapi blm punya pemerintah yang mendukung rakyatnya untuk mengembangkan imajinasi dan teknologi yang lahir dari ide sendiri. Apakah akan selamanya kita sebagai pembeli teknologi bukan sebagai pembuat?"

Sementara menurut Vitria, perlu ada jaringan kerja sama SMK se-Indonesia untuk menyediakan suku cadang mobil Esemka. Jadi layanan purna jualnya akan memberi manfaat bagi murid-murid SMK se-Indonesia.


2) Memperbanyak kompetisi-kompetisi terkait pengembangan riset dan teknologi untuk merangsang ide-ide baru
Menurut Orang Udik, di Australia ada program televisi "New Inventions", berupa kompetisi yang terbuka untuk umum, sehingga masyarakat tergerak untuk berinovasi teknologi dan menampilkan hasilnya di televisi nasional.

Pembaca Kapuyuak menambahkan, Esemka hanya satu dari banyak kreasi anak bangsa yang tidak pernah muncul ke permukaan karena tidak ada perhatian dan minim publikasi. "Ke depan sebaiknya pemerintah melakukan identifikasi berbagai pencipta mobil nasional di seluruh Indonesia dan kemudian melakukan seleksi dan pembinaan mana yang layak dijual secara komersial. Siapa tahu ada yang lebih baik dari Esemka tapi tidak mendapat publikasi, sehingga tenggelam begitu saja."


3) Membuat BUMN semacam IPTN kembali sebagai wadah untuk menyalurkan hasil penelitian skala kecil, agar hasil penelitian tidak mati
Diharapkan dengan berdirinya BUMN semacam IPTN atau BUMN pembuat teknologi maka hasil anak-anak bangsa bisa diproduksi dalam skala besar. Rudi juga berpendapat, "Harusnya BUMN bisa ambil peran sentral dalam produksi masal. Indonesia saat ini jadi permainan pemasaran produksi luar negeri, mereka berlomba-lomba menawarkan yang terbaru, karena tahu (kita) sebagai bangsa konsumtif."

Sementara Kaisar menambahkan, bahwa penting bagi mobil Esemka untuk segera melakukan standarisasi teknis melalui Kemenristek dan BPPT serta melakukan standarisasi administratif sebelum produksi massal dan dipasarkan ke seluruh nusantara. Selain itu, perlu juga untuk menggandeng sektor privat. Seperti kata Antonius, perlu untuk menjalin kerjasama dengan pabrikan kendaraan yang terdapat di Indonesia sebelum memproduksi massal mobil Esemka.


4) Mendorong masyarakat untuk lebih memilih menggunakan produk-produk dalam negeri
Jonathan mengharapkan mobil Esemka bisa mengikuti Pameran Mobil Nasional di Jakarta. "Agar masyarakat luas dapat langsung mengetahui produk bapak. Pasar lapisan bawah justru menurut saya jauh lebih banyak dan harus dikejar, sebelum mobil impor dari Cina memasuki pasar dalam negeri."

Pertama, menurut Antonius, perlu dilakukan analisis pasar untuk menentukan harga mobil. Tentunya, masyarakat menyukai mobil yang harga murah. Ini dibenarkan oleh pembaca Khus, "Sayang sekali, bagi kami harga 95 juta masih terlalu jauh dari jangkauan. Kalau bisa, bikin mobil yang harganya seperti Nano di India, Rp 20 jutaan."

Selain dengan harga yang murah, ada beberapa cara lain untuk membuat masyarakat lokal bisa memilih menggunakan produk dalam negeri. Menurut Dedy Yuanda, "Pemerintah harus memberikan fasilitas dengan membebaskan pajak produksi dan pajak pembelian. Utamakan pemasaran dalam negeri, dan lanjutkan untuk ekspor. Jangan persulit urusan birokrasi. Pemerintah memberikan izin uji kelayakan dan membantu biayanya sekalian biaya produksi."

Pemerintah perlu membuat kebijakan membatasi impor untuk barang-barang luar negeri yang di dalam negeri sendiri sudah bisa diproduksi. Seperti yang dikatakan Chairul, "Sekarang apa sih yang nggak bisa dibuat Indonesia? Pesawat (IPTN) bisa, kapal (PT PAL) bisa, senjata dan kendaraan tempur (PINDAD), dan bisa buat mobil, terus ngapain nggak pakai produk dalam negeri yang bisa memajukan bangsa?"

Sementara kata Tanpa Aran, "Pemerintah tak perlu mendukung, nanti malah ngrepoti saja atau malah jadi lahan korupsi, cukuplah pemerintah memperlancar segala urusan perizinan."

Perizinan untuk mobil Esemka atau lambatnya pengurusan izin mobil menjadi sorotan banyak pembaca Yahoo Indonesia yang memberi komentar soal mobil Esemka. Dan ini memang yang jadi hambatan utama mobil Esemka. Seperti dikatakan Wakil Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo, mereka sudah mengurus surat dan perizinan untuk mobil itu sejak dua tahun lalu kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, tapi sampai saat ini izin itu belum keluar.


5) Mempercepat proses pengembangan hasil karya skala kecil agar segera bisa diwujudkan menjadi produk terujiBelum dipasarkan saja, sudah banyak harapan yang ditimpakan pada mobil Esemka. Salah satu yang menonjol adalah harapan agar Esemka bisa menjadi mobil yang ramah lingkungan, mengadaptasi teknologi hibrid, sampai menggunakan teknologi mobil listrik. Alasannya, seperti yang dikatakan Udayanto, "Jadi negeri ini tidak melulu bergantung dengan BBM."

Carol_dea, Imas, dan Alvin juga menekankan perlunya pengembangan mobil Esemka dengan menggunakan teknologi ramah lingkungan. Sementara, menurut Hery, "Untuk ke depanya harus dipikirkan juga kendaraan yang irit BBM atau pemakaian BBM alternatif dan model city car dengan cc kecil irit BBM."


6) Memberikan keteladanan dari para menteri, anggota DPR, dan para pejabat lain untuk menggunakan produk dalam negeriMenurut Halim, trik dagangnya Jokowi sangat jitu. "Untuk mempopulerkan produk haruslah pejabat yang pertama kali membeli, tentu saja harus dipantau terus kualitasnya dari bulan ke bulan harus semakin baik. Kami kira pemimpin seperti Pak Jokowi inilah yang akan mendongkrak ekonomi rakyat sehingga pada akhirnya Indonesia akan menjadi negara produsen."

Sementara Musavi menambahkan ide bagus, "Kalau pemerintah sungguh-sungguh mendukung, maka seharusnya di dalam anggaran pembelian mobil dinas baru harus mencantumkan spesifikasi merk lokal, bukan merk asing. Dan kandungan lokal harus di atas 80%."


7) Sektor perbankan dan koperasi
Pembaca Mochamad mengusulkan, "Ayo kita iuran Rp 1000 untuk memberi dana kepada mereka biar bisa melanjutkan kreativitas dan kualitasnya."

Jika Rp 1000 terlalu sedikit, Ketut menanyakan, "Apakah mungkin dibentuk koperasi yang anggotanya adalah rakyat Indonesia pecinta produk nusantara? Dengan menyetor iuran keanggotaan masing-masing Rp 100 ribu, dana ini akan digunakan untuk membiayai modal kerja dan investasi mobil Esemka atau produk-produk unggulan lainnya." Mirza juga mengusulkan agar dibuka koin investasi mobil Esemka.

Tetapi, yang paling penting lagi, adalah dukungan dari peminjam dana, alias bank. Setidaknya ada tiga pembaca, Mochamad, Chacha, dan Antonius yang mengusulkan, pengajuan kredit modal kerja ke bank adalah langkah awal yang penting untuk mengembangkan mobil Esemka.



Rabu, 11 Januari 2012

Mobil Tawon: Dimasalkan April 2012?

Mobil nasional karya pelajar SMK di Banten, 'Tawon', direncanakan diproduksi massal pada April 2012 mendatang. Hal itu diungkapkan CEO PT Super Gasindo Jaya, Njoto Koentjoro.

"Target kami bisa memproduksi sekitar 60 unit mobil per bulannya," kata Njoto ketika ditemui Republika, Rabu (11/1).

Ia tidak berharap mobil yang bisa diisi bahan-bahan bakar yang berlainan seperti premium, gas, dan biotanol tersebut menyaingi produk-produk luar negeri. Hal itu disebabkan sejak awal mobil Tawon dirancang untuk kalangan ekonomi menengah ke bawah.

Sementara itu, Personal Manager PT Super Gasindo Jaya, Devi Arya Putri menambahkan, kota Serangdi provinsi Banten menjadi kota pertama tujuan pemasaran perdana mobil Tawon.

"Kami akan membuka show room pertama kami di Serang. Saat ini sedang dalam tahap penentuan lokasi," ujar Devi.

Saat ini mobil yang penciptaannya turut melibatkan anak-anak SMK tersebut memang belum dipasarkan secara massal. Devi menyebut beberapa persiapan sedang menuju ke sana sudah dilakukan, yakni penyediaan spare-part, service center, serta liesing. Namun mobil tersebut sudah lulus uji emisi dan telah mendapatkan SNI.

Sebelumnya sejumlah koperasi di beberapa tempat telah memesan mobil Tawon. Mobil yang pertama kali diciptakan pada 2007 tersebut juga telah menjadi kendaraan dinas di Dinas Perdagangan dan Sekretariat Daerah Provinsi Banten.

Mobil berkapasitas 650 cc tersebut memiliki tiga varian, yakni mobil city car yang dinamai Tawon, mobil pick-up yang dinamai Transformer, serta mobil penumpang dan barang yang bisa diproyeksikan sebagai angkutan umum dan pribadi bernama Metro Tawon.

Senin, 02 Januari 2012

Jokowi dengan Mobil ESEMKA, Hadiah Tahun Baru 2012

Wali Kota Surakarta Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo (Rudy) mulai Selasa, 3 Januari 2012, akan memakai mobil dinas rakitan para siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) dengan Kiat Motor.

"Pak Jokowi nanti akan memakai mobil yang dirakit SMK Negeri 2 Solo bersama Kiat Motor dan Pak Rudy mendapat jatah dari mobil yang dirakit oleh para pelajar SMK Warga Solo bersama Kiat Motor," kata Kepala Dinas Pendidikan Pemudan dan Olahraga Pemkot Surakarta, Rahmat Sutomo, seusai penyerahan mobil tersebut di halaman Balaikota Surakarta, Senin 2 Januari 2012.

Mobil yang dirakit para pelajar SMK dan Kiat Motor yang menggunakan komponen 80 persen buatan lokal dan 20 persen impor itu dibiayai oleh Menteri Pendidkan dan Kebudayaan M. Nuh. "Kedua unit mobil yang akan dipakai sebagai mobil dinas Wali Kota Surakarta dan Wakil Wali Kota Surakarta itu statusnya pinjam pakai," katanya.

Sukiat, pendamping perakitan mobil SMK tersebut, mengatakan harga mobil itu Rp 95 juta per unit--itu kalau diproduksi massal. "Komponen mobil ini sebagian besar buatan anak-anak SMK yang ada di Solo Raya."

"Kami berharap, setelah Pak Jokowi dan Pak Rudy mau memakai mobil rakitan dari anak-anak SMK di Solo Raya, nantinya bisa berkembang dengan baik dan para pejabat lainnya juga mau mengikuti menggunakan mobil ini untuk dinas ataupun pribadi," katanya.

Usai menyerahkan mobil tersebut, Kepala SMK Negeri 2 Solo Susanto dan Kepala SMK Warga Solo Heru Munandar mengatakan untuk perawatan tidak ada masalah. "Mekanik kami siap 24 jam untuk memberikan palayansn apabila ada masalah di kedua mobil yang dipergunakan Pak Jokowi dan Pak Rudy."

Jokowi mengaku bangga dengan kreativitas siswa SMK di Solo. "Saya sangat bangga bisa menggunakan mobil rakitan anak-anak SMK dan Kiat Motor yang pertama. Mobil ini juga tidak kalah dengan mobil-mobil lainnya, silakan dicek dan dicoba. Mobil ini nantinya juga akan saya digunakan untuk dinas," kata Jokowi.

Ia mengatakan di negara-negara produsen mobil seperti di Jepang dan Korea, awal produksi mobil mereka juga seperti yang dilakukan para siswa SMK di Solo Raya ini. Sistem ini akan memperkokoh ketahanan ekonomi di khususnya untuk produsen mobil.

"Menggunakan mobil dinas dengan buatan sendiri ini sama saja mencintai produknya sendiri, maka kami juga memakai produksi sendiri," kata Rudy.

WDA | ANT
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...